Muslimah, Tarbiyah Diri

Tabiat dien ini memberikan satu gambaran kehidupan para pengusungnya yang khas dan unik.Tak ada yang mampu menyamai ataupun menandingi kehebatannya dalam pentas kehidupan, pun dalam keteguhannya menanggung bala'(ujian) atas prinsip yang diyakininya. Hanya rahim-rahim tarbiyah yang dapat melahirkan orang-orang dengan karakter seperti ini.
Lintasan sejarah senantiasa menampilkan orang-orang ini di setiap kurunnya. Meskipun selalu hanya sedikit dibandingkan kebanyakan manusia pada umumnya, namun sunnatulloh menjamin keberadaan mereka hingga datang hari kiamat sebagai pembela dan penolong dienulloh. Semua ini memberikan pelajaran yang nyata bahwa beriltizam (berpegang teguh) dengan dien ini menjadikan diri kita asing dalam kehidupan, bahkan tak jarang ujian dan cobaan lebih banyak mengisi catatan harian kita ketimbang kesenangan hidup dan nikmat duniawi. Renungkanlah sejenak  apa yang dialami Rosululloh SAW dan para sahabatnya dalam menda’wahkan Islam, orang-orang pilihan setelahnya seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul QayyimIbnu Qpyyim AlJauziyyah, Imam Ahmad bin Hambal dan seluruh ulama amilin mujahidin fisabilillah, tidakkah mereka semua lebih kenyang dengan ujian dan cobaan daripada kenikmatan dan kelezatan hidup?Sunnatulloh ini takkan pernah berubah, setiap yang melewati jalanini akan mengalami hal yang sama. Karenanya, jiwa kita membutuhkan pembinaan-pembinaan yang dapat mengokohkannya, sebagaimana kebutuhan kita akan makanan dan minuman yang kan menguatkan fisik kita untuk beribadah kepada-Nya.
Hakekat Tarbiyah (Pembinaan) bagi Diri
Tarbiyah merupakan long life education atau pendidikan sepanjang kehidupan manusia. Kita mendidik/membina jiwa supaya senantiasa tunduk dan taat kepada aturan Alloh SWT, dimana hal ini merupakan satu-satunya syarat nashrulloh (pertolongan Alloh) dan kemenangan Islam. Sebaliknya, kelengahan dan kemaksiatan menjadi sebab utama segala bentuk kekalahan. Beginilah Islam memandang keberhasilan, kesuksesan dan kemenangan. Abdullah bin Rawahah, seorang shahabat yang mulia mengatakan dalam perang Mu’tah,”Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan, dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena dien ini, dien yang Alloh memuliakan kita dengannya”.
Alloh juga berfirman;
”Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama ) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.(QS. Muhammad (47) : 7).
Kebutuhan kita terhadap pembinaan yang kontinyu dan terus-menerus mutlak adanya disebabkan karena banyaknya musuh-musuh kita yang begitu tamak menginginkan katergelinciran kita dari jalan Alloh. Tak hanya musuh dari kalangan manusia, dari golongan orang-orang kafir yang sangat jelas permusuhan mereka maupun dari orang-orang Islam sendiri yang cenderung kepada kefasikan dan dosa. Bahkan musuh-musuh yang lain dari nafsu yang terus memberontak, syetan yang terus menggoda, dunia yang terus berhias dan hawa yang terus membujuk tak pernah berhenti menghalangi jiwa kita dari kebenaran. Setiap detik berlalu dalam pertempuran dengan musuh-musuh al haq (kebenaran), bagaimana jadinya jika kita lengah dalam membina diri? Rasululloh SAW mengingatkan :
”Perbaharuilah dien kalian !”’ (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Tidak seperti sekolah-sekolah yang ada saat ini, seseorang dinyatakan lulus setelah rentang waktu tertentu serta capaian pengetahuan tertentu pula. Sekalipun banyak ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari yang namanya ‘sekolah’ namun semua itu hanya berkumpul dalam kepandaian-kepandaian logika dan nilai-nilai matematis yang tinggi. Sangat jauh dari apa yang dikehendaki Islam dari hasil sebuah pendidikan atau pembinaan!.
Banyak diantara mereka yang dinyatakan pandai atau jenius bahkan disematkan pula padanya sebagai seorang cendekiawan muslim tidak menampilkan dirinya sebagai seorang pembela dien, mereka justeru mengikisnya sedikit demi sedikit dengan ungkapan-ungkapan jahil yang keluar dari mulutnya. Barangkali ini hanya salah satu diantara sekian banyak kelemahan sistem pendidikan yang ada saat ini, yang menjadikan anak-anak kita –diri kitapun mungkin mengalami dan merasakannya- hanya pandai dalam ilmu tapi tidak dalam amalnya.
Sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak kita dan masa depan Islam, kita harus memahami hal mendasar ini. Kesempurnaan Islam telah menempatkan ilmu dan amal sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dan mendudukkannya setara dalam kepentingannya. Dalam sab’ul matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang) yang minimal kita baca tujuhbelas kali dalam sehari, betapa kita selalu memanjatkan do’a:”Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Kau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Kau murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat”. (QS. Al Fatihah (1) : 6-7.
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa orang-orang yang mendapatkan murka adalah orang-orang Yahudi, disebabkan banyaknya ilmu mereka namun mereka enggan mengamalkannya. Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani, disebabkan banyaknya ibadah mereka yang tidak dilandasi oleh ilmu. Dan dien Islam menyempurnakan ilmu dengan amal dan amal dengan ilmu.
Hal ini menjadi catatan tersendiri bagi para pegiat amal Islami untuk menjadikan wasilah-wasilah tholabul ilmi tak sekedar wacana yang menjejali otak dengan pengetahuan dan pengetahuan semata, tetapi juga melatih jiwa untuk bersegera mengamalkan apa yang diketahuinya. Sesungguhnya ini metode Rabbani dalam mentarbiyah jiwa-jiwa manusia, yaitu dengan memberikan pembinaan terhadapnya secara bertahap dan berangsur-angsur. Abdullah Azzam mengibaratkan pembinaan jiwa manusia seperti membangun sebuah rumah, bata demi bata diletakkan satu persatu hingga terwujud sebuah bangunan yang sempurna. Demikian pula jiwa manusia, ia memerlukan proses dan waktu yang panjang sehingga ia siap mengamalkan seluruh beban taklif dalam dien ini dengan ringan dan tanpa paksaan. Oleh karenanya Alloh Robbul Izzati menurunkan AlQur’an secara bertahap, satu atau dua atau tiga ayat kemudian memerintahkan mereka supaya mengamalkannya.
Adalah para shahabat mempelajari tak lebih dari sepuluh ayat kemudianmengamalkannya, dan tak menambah sebelum mengamalkannya secara benar. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa kami belajar ilmu dan mengamalkannya secara bersamaan. Walhasil, jika kita melihat seseorang diantara mereka maka seolah-olah kita melihat melihat mushhaf AlQuran berjalan di muka bumi karena keseluruhan dari mereka baik ucapan, perilaku, gerak-gerik dan dan tabiat mereka adalah tuntunan alQur’an yang mulia. Dan orang-orang seperti ini yang disebut Rasululloh sebagai hamba Alloh yang terbaik, sebagaimana sabdanya ;
”Sebaik-baik hamba Alloh adalah orang-orang yang apabila dilihat (membuat orang yang melihatnya) ingat kepada Alloh”. (HR. Ahmad).
Jadi, setiap orang yang menginginkan dapat mengembalikan dienulloh dalam kehidupan dunia haruslah memenuhi dua hal, yaitu; pertama, mengetahui dienulloh Azza wa jalla. Kedua, mengamalkan ajaran dien, sehingga dien itu menjadikan mereka berkuasa di dunia.
Tarbiyah (Pembinaan) termasuk I’dad Imany
Salah satu i’dadul quwwah (mempersiapkan kekuatan) yang diperintahkan Alloh dalam QS. Al Anfal :60 adalah i’dad imany,yaitu mendidik jiwa dengan mempelajari ilmu-ilmu syar’i sehingga tersingkap kabut syubhat serta tazkiyah (mensucikan diri) sehingga tunduklah syahwat kepada kehendak Ilahi.
Ketika kita berazam menapakkan kaki di jalan jihad, maka kita harus bersiap hidup nikmat di atas celaan, kebencian dan permusuhan yang diberikan kebanyakan manusia. Karenanya, kebutuhan kita terhadap pemahaman yang benar terhadap jihad dan istilah-istilah syar’i yang berkenaan dengan jihad sangatlah urgen demi melenyapkan kabut syubhat yang menyelimuti pemikiran. Sedikitnya penyampaian ilmu mengenai jihad yang benar oleh dai-dai kaum muslimin atau banyaknya kebohongan dan pemutarbalikan fakta tentang jihad menjadikan jihad sebagai hal yang menakutkan bagi kebanyakan orang bahkan umat Islam sendiri.
Sedangkan syahwat, nafsu yang dituruti, yang cenderung kepada keburukan dan kefasikan, juga merupakan musuh terbesar jihad. Jalan ini tak mungkin dapat dilewati orang-orang yang hatinya bergelimang dengan kemewahan, kenikmatan dan kenyamanan hidup dunia. Kecuali orang-orang seperti generasi pertama Islam yang meletakkan dunia hanya dalam genggaman tangannya –tidak dalam hatinya- sebagaimana Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf yang dengan ringan menginfaqkan seluruh harta miliknya untuk kepentingan jihad. Ya, ringanseperti melemparkan bulu ayam ke udara!
Kita, para wanita, dimana keberadaan kita dalam kafilah jihad yang panjang? Kecenderungan wanita terhadap dunia berikut pernak-perniknya tak dapat dipungkiri, karenanya jiwa kita membutuhkan latihan-latihan dan teladan-teladan untuk membuatnya bebas dari penjara dunia menuju keluasan jannah yang dijanjidijanjikan Alloh. Latihan-latihan yang terus-menerus hingga kita terbiasa hidup seadanya, tidak mengambil dunia melainkan sebatas keperluannya dan menganggap apa yang ada pada kita sebagai amanah Alloh yang harus dijaga dan dipenuhi hak-haknya.
Mustahil kiranya kita bisa menetapi jalan ini tanpa mengetahui dan meneladani kehidupan para pendahulu kita yang tetap teguh di jalan jihad hingga akhir hayatnya. Mereka bukan sembarang manusia yang dilahirkan ibunda mereka, mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Mereka lahir dari pembinaan terbaik dari seorang pemimpin yang terbaik, hingga Rasululloh menyebutkan :
”Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang sesudahnya kemudian yang sesudahnya”.(HR. Bukhari).
Meneladani mereka dan mengikuti petunjuk mereka adalah jalan meraih kemenangan yang dijanjikan Alloh. Imam Malik mengatakan :Tidak akan beruntung/menang umat ini melainkan dengan apa yang menjadikan beruntung/menang umat sebelum mereka.
Alloh berfirman :
”Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka”. (QS. Al An’am : 90).
”Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Hud : 120).
Pembinaan terhadap jiwa ini merupakan persiapan yang sangat urgen bagi seorang muslimah, di samping persiapan secara materi yang juga perlu dilatih dan dibiasakan sesuai fitrah dan kemampuan masing-masing. Kesadaran dan pemahaman yang benar akan posisi dan kewajiban kita sebagai seorang isteri yang mendampingi suami-suami mujahid dan seorang ibu yang memiliki tanggungjawab besar terhadap lahirnya generasi besar di masa depan adalah modal terbesar tumbuhnya himmah dan azzam yang kuat dalam diri untuk selalu membina diri. Dan kenyataan yang jauh berbeda dengan kebanyakan keluarga pada umumnya tak menjadikan seorang isteri yang paham banyak mengeluh, menyakiti suami dengan perkataan, sikap maupun tuntutan-tuntutan yang banyak.
Justeru ia selalu berusahamendampingi suaminya dengan setia, melayani, memudahkan dan membantu tugas-tugasnya dengan senang hati. Sedikitnya waktu dan perhatian yang diberikan suami karena banyaknya kewajiban yang harus ia tunaikan tak membuat senyumnya berubah menjadi kemarahan, justeru rasa bangga dan rela senantiasa ia bingkai dalam hatinya atas kemuliaan berupa kesibukan suaminya di jalan jihad yang dicintai Alloh.
Sebuah pelajaran dari negeri para syuhada, Afganistan, patut kita jadikan pelajaran. Salah seorang panglima mujahidin Afganistan ditanya oleh Sayyid Ghalib Syawisy, ”Pernahkah seorang mujahid menemui hambatan dari isteri dan anak-anaknya dikarenakan lamanya meninggalkan mereka dan susahnya kehidupan ?”. Ia menjawab,”Justeru wanita Afganlah yang memberi motivai suaminya untuk berjihad. Kalau ada yang ragu-ragu, ia sendiri yang meminta untuk membantu mujahidin, sedang suaminya di rumah menjaga anak-anak dan harta benda, mengurus kebutuhan rumah tangga”. ”Bahkan banyak diantara gadis Afganistan menawarkan dirinya kepada mujahidin dan maharnya dibelikan senjata demi kepentingan mereka”, lanjutnya. Ini adalah perkataan jujur seorang mujahid Afgan. Medan jihad, permusuhan dan berbagai konflik, keteguhan dan kebanggaan atas suatu prinsip telah memunculkan sosok-sosok wanita seperti ini untuk menyiapkan generasi harapan umat dengan apa yang mereka miliki dari sifat-sifat Khadijah, Aisyah, Hafshah, Ummu Sulaim, dan lain-lain.
Sungguh, kita takkan kehabisan kekuatan jika kita mau mengambil teladan. Mempelajari ilmu-ilmu syar’i dan membaca kehidupan para salaf akan membuka tabir syubhat dan melenyapkan syahwat-syahwat dalam diri kita, sehingga yang ada tinggallah ketenangan, keteguhan,rasa syukur dan ridha bahwa Alloh berkenan memilih kita berada di jalan jihad yang mulia. (Hikmah).
Wallohu a’lam bish-showab.
Referensi
·
  • AlQur’anul Karim dan terjemahannya
  • ·        Dr. Abdullah Azzam, Tarbiyah Jihadiyah
  • ·        Dr. Najih Ibrahim, Kepada Aktivis Muslim
  • ·        Abdul Hamid Jasim Al Bilaly, Rambu-Rambu Tarbiyah dalam sirah Nabi
Iklan

About UKM move

Para Penggenggam Bara

Posted on Januari 27, 2013, in Pena Bicara and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: